Minggu, 09 Maret 2014

DONGENG ASAL USUL BATU GANTUNG DI PARAPAT SIBAGANDING

Dahulu kala, ada satu kampung terpencil di pinggiran Danau Toba Sumatera Utara, hiduplah sepasang suami-istri dengan seorang anak perempuannya yang cantik jelita bernama Seruni.
Selain rupawan, Seruni juga sangat rajin membantu orang tuanya bekerja di ladang. Setiap hari keluarga kecil itu mengerjakan ladang mereka yang berada di tepi Danau Toba, dan hasilnya digunakan untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari.
hari silih berganti dan serunipun sudah besar sehingga timbul niat dari kedua orang tuanya untuk menjodohkan dia kepada paribannya yang kaya raya tapi bodoh dan terbelakang mental, sehingga seruni pun tidak menolak tapi dalam hatinya berkecamuk amarah dan putus asa,dan diapun tidak berani memberitahukan kepada kedua orang tuanya karena dia takut di marah atau takut orang tuanya kecewa kepada seruni karena di lain sisi seruni pun sudah memiliki teman pujaan hatinya yang selama ini menjadi kekasihnya.

Suatu hari, Seruni pergi ke ladang seorang diri, karena kedua orang tuanya ada keperluan di desa tetangga. Seruni hanya ditemani oleh seekor anjing kesayangannya bernama si Toki. Sesampainya di ladang, gadis itu tidak bekerja, tetapi ia hanya duduk merenung sambil memandangi indahnya alam Danau Toba. Sepertinya ia sedang menghadapi masalah yang sulit dipecahkannya. Sementara anjingnya, si Toki, ikut duduk di sebelahnya sambil menatap wajah Seruni seakan mengetahui apa yang dipikirkan majikannya itu. Sekali-sekali anjing itu menggonggong untuk mengalihkan perhatian sang majikan, namun sang majikan tetap saja usik dengan lamunannya.

Memang beberapa hari terakhir wajah Seruni selalu tampak murung. Ia sangat sedih, karena akan dinikahkan oleh kedua orang tuanya dengan seorang pemuda yang masih saudara sepupunya. Padahal ia telah menjalin asmara dengan seorang pemuda pilihan hatinya dan telah berjanji akan membina rumah tangga yang bahagia. Ia sangat bingung. Di satu sisi ia tidak ingin mengecewakan kedua orang tuanya, dan di sisi lain ia tidak sanggup jika harus berpisah dengan pemuda pujaan hatinya itu. Oleh karena merasa tidak sanggup memikul beban berat itu, ia pun mulai putus asa.

“Ya, Tuhan! Hamba sudah tidak sanggup hidup dengan beban ini,” keluh Seruni.

Beberapa saat kemudian, Seruni beranjak dari tempat duduknya. Dengan berderai air mata, ia berjalan perlahan ke arah Danau Toba. Rupanya gadis itu ingin mengakhiri hidupnya dengan melompat ke Danau Toba yang bertebing curam itu. Sementara si Toki, mengikuti majikannya dari belakang sambil menggonggong.

Dengan pikiran yang terus berkecamuk, Seruni berjalan ke arah tebing Danau Toba tanpa memerhatikan jalan yang dilaluinya. sesampainya di pinggir danau Tanpa diduga, tiba-tiba ia terperosok ke dalam lubang batu dan tersangkut dengan akar pohon,sehingga dia terjatuh sambil tergantung dipinggir batu yang curam sambil berteriak.....

“Tolooooggg……! Tolooooggg……! Toloong aku, Toki!” terdengar suara Seruni meminta tolong kepada anjing kesayangannya.

Si Toki mengerti jika majikannya membutuhkan pertolongannya, namun ia tidak dapat berbuat apa-apa, kecuali hanya menggonggong di mulut lubang. Beberapa kali Seruni berteriak meminta tolong, namun si Toki benar-benar tidak mampu menolongnya. Akhirnya gadis itu semakin putus asa.

“Ah, lebih baik aku mati saja daripada lama hidup menderita,” pasrah Seruni.

Sementara si Toki yang mengetahui majikannya terancam bahaya terus menggonggong dari atas di pinggir danau. Merasa mampu menolong sang majikan, ia pun segera berlari dan melompat mendekati sang majikan, sehingga tanpa disadari sang majikan (seruni) dan anjingpun bersama tergantung di dinding batu yang curam itu karena akar pohon yang melilit kaki seruni makin tidak bisa terlepas dan lamakelamaan keduanya menjadi batu, dan saat itu terjadilah gemuruh dan gempa sehingga keduanya langsung menjadi batu,

Beberapa saat setelah gempa itu berhenti, tiba-tiba muncul sebuah batu besar yang menyerupai tubuh seorang gadis dan seolah-olah menggantung pada dinding tebing di tepi Danau Toba. Masyarakat setempat mempercayai bahwa batu itu merupakan penjelmaan Seruni . Oleh mereka penduduk setempat batu itu kemudian diberi nama “Batu Gantung”.

Beberapa hari kemudian, tersiarlah berita tentang peristiwa yang menimpa gadis itu. Para warga berbondong-bondong ke tempat kejadian untuk melihat “Batu Gantung” itu. 

Batu tersebut memang benar menggantung dibawah tebing dan tidak terjatuh. Ukurannya pun sekitar 2 meter dan menyerupai tubuh manusia.
Batu tersebut memang benar menggantung dibawah tebing dan tidak terjatuh. Ukurannya pun sekitar 2 meter dan menyerupai tubuh manusia.

untuk menyaksikannya kita harus naik boat dari parapat +/- 10 mnt dari parapat......lebih pasnya boat dari Atsari Hotel Parapat
info Boat dan Hotel Hub 085276075316....

Tidak ada komentar:

Posting Komentar